Banyak orang berhenti di depan lukisan abstrak hanya untuk membaca label dan berjalan pergi. Penyebabnya sederhana: tidak ada sosok, pemandangan, atau benda yang bisa dikenali. Cara membaca lukisan abstrak yang lebih berguna adalah dengan menelusuri keputusan visual pelukisnya, satu per satu, dari warna hingga ukuran kanvas.
Abstrak bukan berarti karya tanpa isi. Pelukis abstrak tetap memilih, menolak, mengulang, dan menekan sesuatu. Pilihan-pilihan itulah yang bisa Anda baca.
1. Mulai dari reaksi pertama Anda
Sebelum membaca label atau catatan kurator, catat apa yang Anda rasakan dalam sepuluh detik pertama. Lega, sesak, gelisah, tenang, atau justru bosan. Reaksi awal ini sering luput begitu Anda mulai membaca penjelasan panjang.
Reaksi itu bukan penilaian akhir, melainkan pintu masuk. Jika sebuah karya membuat Anda tidak nyaman, pertanyaan berikutnya adalah bagian mana yang memicu ketidaknyamanan itu: warnanya, ukurannya, atau garis-garis yang bertumpuk?
2. Baca warna dan intensitasnya
Warna adalah alat paling langsung dalam lukisan abstrak. Perhatikan apakah warnanya saling menempel atau dipisahkan jarak. Warna yang bertabrakan langsung, seperti merah di samping hijau, menghasilkan getaran yang berbeda dari warna senada yang berdampingan.
Perhatikan juga tingkat kepekatannya. Cat yang tebal dan tidak diencerkan memberi kesan berat. Lapisan tipis yang tembus pandang memberi kesan ringan atau menjauh. Pelukis abstrak sering memakai perbedaan ini untuk menciptakan ruang tanpa menggambar ruang.
Pertanyaan yang bisa Anda ajukan
- Warna apa yang paling dulu menarik perhatian, dan mengapa?
- Apakah ada satu warna yang berulang di banyak bagian?
- Apakah warna-warnanya cenderung bertabrakan atau berdampingan tenang?
3. Perhatikan garis dan gerakan tangan
Garis dalam lukisan abstrak menyimpan jejak tubuh pelukisnya. Sapuan kuas yang panjang dan lancar menunjukkan gerakan yang dilakukan tanpa ragu. Goresan pendek yang berulang menunjukkan ritme, hampir seperti hitungan.
Coba telusuri arah garis dari kiri ke kanan, lalu dari atas ke bawah. Apakah garis mengarahkan pandangan Anda ke satu titik, atau menyebar ke segala arah? Lukisan yang mengarahkan pandangan biasanya punya pusat perhatian, meski tidak berupa objek.
4. Amati bidang, ruang, dan lapisan
Setelah warna dan garis, lihat bagaimana bidang-bidang disusun. Ada karya yang membiarkan latar belakang terlihat kosong sehingga bentuk utama tampak mengambang. Ada pula yang menutup seluruh permukaan dengan lapisan, sehingga tidak ada tempat bagi mata untuk beristirahat.
Perhatikan apakah Anda bisa membedakan mana lapisan yang lebih dulu dan mana yang belakangan. Pada lukisan abstrak, urutan lapisan sering menjadi petunjuk proses kerja. Cat yang menutupi cat lain menunjukkan keputusan yang diambil setelahnya, kadang untuk memperbaiki, kadang untuk menghapus.
5. Baca ukuran, bahan, dan cara memasangnya
Ukuran kanvas mengubah cara sebuah karya bekerja. Lukisan abstrak berukuran besar cenderung menuntut tubuh penonton bergerak mengikuti bidangnya. Karya kecil memaksa Anda mendekat dan menelusuri detail.
Bahan juga berbicara. Cat minyak, akrilik, tinta, dan arang menghasilkan tekstur yang berbeda. Cara karya dipasang, misalnya tanpa bingkai atau dengan kanvas yang tebal, termasuk bagian dari keputusan pameran yang bisa Anda perhatikan.
6. Hubungkan dengan konteks dan keterangan karya
Judul, tahun pembuatan, dan catatan kurator membantu, asalkan dibaca setelah Anda mengamati karya. Membacanya lebih dulu membuat pengamatan Anda cenderung mencari pembenaran atas penjelasan itu.
Konteks yang perlu Anda ketahui biasanya terbatas pada tiga hal: kapan karya dibuat, di mana pelukis bekerja, dan apa yang sedang ramai diperdebatkan di lingkungan seni saat itu. Dari sana, Anda bisa menilai apakah karya ini menanggapi sesuatu, menolak sesuatu, atau berjalan sendiri.
Membandingkan dua karya sekaligus
Cara cepat melatih mata adalah membandingkan dua lukisan abstrak di ruang yang sama. Catat tiga perbedaan paling mencolok, lalu tanyakan mana yang lebih dahulu dibuat. Sering kali perbedaan itu muncul karena perubahan cara kerja pelukis, bukan karena tema yang berbeda.
Kesalahan yang sering dilakukan penonton baru
- Mencari objek tersembunyi di dalam lukisan, lalu merasa gagal karena tidak menemukannya.
- Menganggap satu lukisan harus punya satu makna yang benar.
- Membaca label lebih dulu, sehingga pengamatan sendiri tidak berkembang.
- Menilai karya hanya dari kerapiannya.
- Berpindah dari satu karya ke karya lain dalam hitungan detik.
Membaca abstrak sebagai latihan, bukan ujian
Tidak semua lukisan abstrak dirancang untuk bisa ditafsirkan. Sebagian pelukis memang bekerja pada wilayah yang sulit diterjemahkan ke dalam kalimat. Yang bisa Anda lakukan adalah mencatat apa yang benar-benar terlihat, bukan apa yang seharusnya terlihat.
Semakin sering Anda berdiri di depan karya abstrak dan memberi waktu lebih dari satu menit, semakin mudah Anda mengenali pola keputusan pelukisnya. Kemampuan ini terbentuk dari pengalaman melihat, bukan dari hafalan teori. Untuk urusan nilai koleksi, pembelian, atau keaslian karya, konsultasikan dengan kurator, galeri, atau penilai seni yang berkompeten.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah lukisan abstrak selalu punya makna tersembunyi?
Tidak selalu. Sebagian pelukis abstrak memang menyimpan gagasan tertentu, tetapi ada juga yang bekerja murni dari persoalan bentuk, warna, dan proses. Anda bisa menikmati hasil pengamatan sendiri tanpa harus menemukan pesan rahasia.
Apakah saya perlu belajar sejarah seni untuk memahami abstrak?
Tidak wajib. Pengetahuan sejarah seni membantu menempatkan karya dalam konteks, tetapi pengamatan langsung tetap bisa dilakukan siapa saja. Mulailah dari warna, garis, dan bidang, lalu lengkapi dengan keterangan karya jika tersedia.
Bagaimana kalau saya tetap tidak menyukai sebuah karya abstrak?
Rasa tidak suka adalah tanggapan yang sah. Coba jelaskan alasannya secara spesifik, misalnya warnanya terlalu ramai atau komposisinya terasa berat di satu sisi. Penilaian yang disertai alasan lebih berguna daripada sekadar menyatakan suka atau tidak suka.
Tinggalkan Balasan